Islam adalah wahyu abadi dari Allah yang disampaikan kepada manusia melalui serangkaian para Nabi sejak Nabi Adam a.s, hingga kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai Nabi terakhir yang menyempurnakan seluruh ajaran Islam dengan mendapat jaminan dan dukungan Allah pencipta alam ini. (Al-Najjar, 1988). Setiap nabi  membawa  dan menyebarkan agama Allah yaitu membawa  missi agama tauhid yang mengesakan Allah dan kemudian disempurnakan  oleh nabi akhir zaman—Muhammad SAW dan ini mendapat pengakuan Allah melalui al-Qur’an.Islam merupakan sebuah agama yang didasarkan seluruhnya pada wahyu Allah dan Sunnah Rasul-Nya Muhammad SAW.
Tidak ada keraguan terhadap risalah Islam ini, karena telah mendapat legitimasi Allah dan Rasul. Barang siapa yang benar-benar berpegang teguh padanya secara totalitas maka dia akan mendapat kejayaan dunia dan akhirat. Apabila Islam digunakan sebagai pandangan hidup (way of life) dalam setiap disiplin ilmu dan sisi kehidupan dan tidak terkecuali dalam hal ehwal pendidikan,  manusia akan memperoleh  petunjuk  dan sudah pasti tergiring ke jalan yang lurus dan benar.  Pendidikan yang dimaksud disini adalah yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW, berazaskan tauhid, adanya integritas antara iman, ilmu dan amal serta memisahkan antara konsep ilmu agama dan ilmu yang bersifat duniawi, pendidikan agama dan pendidikan umum.
Islam adalah al-Deen yang diwahyukan Allah SWT melalui rasul-Nya untuk manusia di alam ini. Asas utama Islam terbentuk dari tiga aspek yaitu akidah, ibadah dan akhlak. Ketiga aspek ini sangat berperan dalam kehidupan seorang muslim dalam  melaksanakan konsep al-Deen ini. Apabila akidah  sebagai keimanan hanya dijalankan kepada Allah SWT, disempurnakan melalui  syari’ah dengan pelaksanaan ibadah secara umum  dan khusus. Dengan menggabungkan kedua-duanya maka lahirlah  akhlak  Islam (Makhsin,  2003).
Kata Islam adalah bahasa Arab bermakna penyerahan diri secara damai, penerimaan yang menyenangkan dan memperhambakan diri dengan tulus terhadap segenap perintah Allah. Dengan demikian, agama Islam merupakan penyerahan diri yang menyenangkan terhadap kehendak Allah, taat kepada perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, berpegang teguh ajaran-Nya, mengikuti petunjuk dan bimbingan-Nya berdasarkan Islam yang kita miliki.
Islam tidak didasarkan atas penyimpangan dan iman tidak akan terwujud tanpa perbuatan nyata (Al-Najjar, 1988).Islam artinya “pasrah” atau “patuh” kepada Allah. Orang Islam bermakna muslimyang patuh kepada seluruh perintah Allah, sementara orang  yang  menolak atau tidak mematuhi Allah, maka dia dinamakan kufur (ingkar), lihat Dr. Muhammad Imaduddin Abdul Rahim (2002). Orang Islam identik dengan orang yang patuh dan ta’at kepada  perintah  Allah dan Rasul SAW dan sesuai dengan makna  Islam itu sendiri, namun  jika  seorang muslim gagal  menjalankan kepatuhannya kepada segenap perintah  Allah dan Rasul maka  predikat “patuh, ta’at,  dan pasrah kepada  perintah Allah dan Rasul perlu ditinjau kembali sebab dia/mereka telah melakukan yang melanggar ajaran Islam.
Pendidikan merupakan suatu proses transmisi secara formal dan informal yaitu ilmu pengetahuan dan keahlian yang terjadi antara satu generasi ke generasi berikutnya (Dawi, 2002). Sedangkan (Langgulung, 1991) memberikan definisi tentang pendidikan berdasarkan tinjauan kemasyarakatan dan individu.
Dari segi kemasyarakatan pendidikan bermakna warisan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda agar hidup masyarakat tetap berkelanjutan dengan kata lain masyarakat memiliki nilai-nilai budaya atau adat-istiadat yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya agar tetap dilestarikan. Dari segi individu pendidikan dapat dimaknakan sebagai pengembangan potensi-potensi pada diri manusia  yang terpendam dan tersembunyi, individu itu laksana lautan yang dalam yang penuh dengan mutiara dan bermacam-macam ikan dan kehidupan air lainnya, tetapi tidak kelihatan.
Pendidikan Islam pada intinya adalah wahana pembentukan manusia yang berbudi luhur. Dalam ajaran Islam masalah akhlak tidak dapat dipisahkan dari iman, keimanan merupakan hati, akhlak adalah pantulan iman yang berupa prilaku, ucapan dan sikap. Dengan lain perkataan dapat dikatakan bahwa akhlak adalah amal shaleh, iman adalah maknawi (abstrak) sedangkan akhlak adalah bukti keimanan dalam bentuk perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran karenan Allah semata (Ainurrofiq Dawam, 2003)
Pendidikan Islam merupakan sebuah sistem yang berusaha mengembangkan dan mendidik segala aspek pribadi manusia dengan segala kemampuannya. Termasuklah kedalamnya pengembangan segala segi kehidupan manusia/masyarakat misalnya sosial budaya, ekonomi dan politik; serta bersedia menyelesaikan problema masyarakat masa kini dalam menghadapi tuntutan-tuntutan masa depan dan memilihara sejarah dan kebudayaannya (Omar al-Syaibani, 1991).
Pendidikan Islam perlu memikirkan baik secara jangka panjang maupun jangka pendek, masa aman maupun masa darurat. Sebagai contoh bagaimana menangani permasalahan pendidikan anak-anak dan orang dewasa pasca gempa bumi dan tsunami di Aceh di kamp-kamp pengungsian dan di rumah-rumah penduduk yang bertebaran di mana-mana.
Pendidikan Islam lebih banyak dihadapkan kepada akhlak dan sopan santun serta penghayatan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari (Mohd Kamal Hasan, 2003). Pendidikan Islam sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi keruntuhan moral, penangkalan aqidah, budaya korup dan sejenisnya. Karena itu pendidikan Islam secara sempurna menggunakan kurikulum yang sesuai dengan al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Lihatlah contoh bagaimana Allah mendidik Rasul dan para ambiya-Nya, bagaimana Nabi Muhammad SAW mendidik para sahabat-Nya  dan umat Islam secara umum sewaktu baginda berkuasa. Jadilah contoh teladan yang harus diikuti dalam pelaksanaan pendidikan Islam. Dalam rangka mendapat kejayaan dalam pelaksanaan pendidikan Islam perlu adanya keterlibatan keluarga/orang tua dan masyarakat sebagai penanggung jawab secara formal maupun informal.
Islam memiliki cara  tersendiri bagaimana  mendidik  dan  mengajarkan  anak-anak dan generasi muda dan juga  mempunyai  bahan pelajran yang sesuai  dengan peringkat umur dan  peredaran masa dan  ini  bisa  dipelajari dan  kembali  kepada  pendidikan Rasulullah SAW dan  para sahabatnya. Baginda telah berhasil mendidik   para sahabat dan anak-anak orang Islam,  serta  para  muallaf yang baru memeluk agama Islam.
Model pendidikan Islam ala Rasulullah SAW  perlu dijadikan modal dan  uswatun hasanah dalam mendidik generasi  muda dalam setiap zaman.Muhammad SAW  sebagai pemerintah, orang tua, pendidik dan sekaligus sebagai wakil Allah di bumi ini yang  telah terbukti keberhasilannya  dalam mendidik dan  menggembleng  para sahabatnya dan  ummat Islam secara umum ketika  beliau masih hidup. Ini sebagai pertanda  bahwa  untuk berhasilnya pendidikan  haruslah  adanya komitmen sejumlah orang dan institusi  yang saling bahu membahu  memantau  dan memberi  perhatian  terlaksananya proses belajar dan mengajar. Kepedulian semua pihak  menunjukkan  adanya  perasaan  bersama  dalam  membangun bangsa  dan negara  di masa yang akan datang.
Dukungan dan Tanggungjawab Keluarga
Ini adalah tanggungjawab yang menyeluruh yang diletakkan oleh Islam di leher setiap muslim, yang tak ada seorangpun bebas darinya. Sehingga kedua orang tua bertanggungjawab untuk mendidik anak-anaknya dengan pendidikan Islam yang cermat (Ash-Shafti, 2003). Keluarga atau orang tua merupakan garda terdepan dalam menentukan kemana arah pendidikan anak-anak. Peranan orang tua sangatlah menentukan dalam mendidik, membimbing, dan memberi semangat belajar kepada anak-anak. Kita harus tahu bahwa seorang anak selalu siap untuk menyerap segala bentuk pendidikan dan pengajaran. Jika bapak, ibu atau walinya berkehendak, maka mereka dapat merubah seorang anak menjadi manusia teladan (Sultani, 2004).
Anak adalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada orang tua supaya mereka dididik dengan baik, diberi nama dengan baik, diberi pendidikan dengan secukupnya, diajarkan dasar-dasar pendidikan Islam dan halal-haram, baik dan buruk serta akhlak yang mulia. Dalam Al-quran Allah berfirman yang artinya “Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah munusia dan batu…….” (Q. S ; at-Tahrim: 6)
Di samping memenuhi dukungan materil dan spirituil kepada anak-anak untuk belajar, orang tua atau pihak keluarga perlu mengirim anak-anak mereka untuk mencari ilmunya agar dapat mengenal Allah dengan asma-Nya, sifat-Nya, mengetahui perkara-perkara yang dibenci-Nya dan mengetahui jalan untuk mencapai kecintaan-Nya serta menjauhi apa yang dimurkai-Nya. Apabila seseorang merasa mencapai ilmu itu, maka ia akan lebih takut kepada Allah sesuai dengan firman-Nya, “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama”.
Perlu disadari bahwa keluarga merupakan unit pertama bagi masyarakat pada tahap institusi. Ini merupakan jembatan yang dilalui untuk generasi muda/anak-anak di masa yang akan datang. Keluarga merupakan sistem yang paling khusus dan sangat tersendiri untuk pendidikan awal. Keluarga merupakan lingkungan yang mula-mula sekali dihayati oleh seorang bayi setelah lahir. Dalam keluargalah ia berinteraksi dan mengambil dasar-dasar bahasa, nilai-nilai, standar prilaku, kebiasaan, kecendrungan jiwa dan sosial dan pembentukan nilai-nilai kepribadian. Keluarga juga merupakan sebuah institusi awal yang memenuhi kerja sama antara lelaki dengan perempuan serta sebagai pusat pembentukan kpribadian seorang anak (Al-Syaibani, 1991)
Tanggung  jawab  kesatuan dan kebersamaan  keluarga terletak pada setiap  individu di dalam keluarga. Dalam keluargalah mulai dibina  rasa sayang  terhadap yang kecil dan menghormati  yang besar dan  juga  menghormati kedua orang tua  (Hasan Manshur,2002). Dan ini  sesuai dengan sabda Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang bermakna : “Bukan termasuk  golongan kami, seorang yang tidak menghormati yang besar dan tidak menyayangi yang kecil”.Hadits ini  menggambarkan betapa pentingnya menebarkan rasa kasih sayang dan saling menghormati antara yang besar dengan yang kecil dan pembinaan ini  dimulai dari rumah atas  bimbingan seorang   ayah dan ibu/keluarga.
Islam  sangat  konsen terhadap  kasih sayang dan  penghormatan karena  perkara ini akan mengundang  keharmonisan  baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Ini merupakan dambaan semua  manusia  yang normal yang  perlu dikasihi dan disayangi serta begitu pula sebaliknya tidak suka  dibenci dan dimusuhi.
Keluargalah yang membuka mata seorang anak dan dari sinilah  dimulainya  pengenalan tentang  baik dan buruk serta  halal dan haram  yang  selalu kita dengar dari mulut  ayah dan ibu. Peranan mereka sangatlah  besar baik dalam mendidik  maupun dalam  memberikan  pendidikan awal bagi setiap anak, oleh karena itu  ilmu dan kewibawaan  ayah dan ibu  benar-benar diperlukan untuk menentukan masa depan anak dan  kelangsungan hidup mereka dalam bermasyarakat.
sumber : http://ddii.acehprov.go.id